Tampilkan postingan dengan label Sumatera Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumatera Utara. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 April 2013

Talam Pandan Kelapa Parut


Dear Trio TAH,
Aku adalah salah satu orang yang bahagia dengan kabar penambahan waktu setoran event week-week-kan kali ini. Sejak gong event ini, sudah diniatkan untuk buat beberapa jajanan, eh kok ya waktunya mepet-mepet terus dengan kegiatan yang lain. Maka hari ini, sebelum gong penutupan dipukul, tidak ada kata lain harus setor demi mendapatkan badge-nya yang keren abis.  
Kali ini aku buat Talam Pandan Kelapa Kukus, yang menurut buku Dapur Lestari 101 Kue Nusantara berasal dari Padang/Medan (CMIIW). Biasanya aku hanya membuat kue Talam Ubi, tapi mengapa aku tertarik ingin membuat talam pandan ini? Ceritanya minggu lalu aku menghadiri resepsi pernikahan seorang kerabatku, dan di sana aku sempat icip-icip kue ini. Rasanya lembut sekali. Jadi penasaran deh pingin buat. Hasilnya? Nyam...nyam...nyam....Lembut banget kue talam ini. Dan taburan kelapa parutnya membuat kue talam ini makin gurih dan nagih. Yuk mari ikutan buat.....  

Talam Pandan Kelapa Parut
Sumber Resep: Dapur Lestari 101 Kue Nusantara (penerbit: Kriya Pustaka)  

Bahan:
150 gr Tepung Beras
100 gr Tepung Sagu
2 sdt Air Kapur Sirih (tidak pakai)
600 ml Santan dari 1 butir kelapa (aku pakai santan instan 400 ml + a6ir 200 ml)
1/2 sdt garam
225 gr Gula Pasir (aku cuma pakai 200 gr)
2 sdm Air Daun Suji (aku pakai pasta pandan secukupnya)
1/4 butir kelapa setengah tua, parut halus memanjang, kukus 15 menit.

Cara Membuat:
  1. Panaskan cetakan kue talam dalam dandang kukusan;
  2. Campurkan tepung beras, tepung sagu, air kapur sirih dan 300 ml santan. Aduk rata;
  3. Masak 300 ml santan sisanya. Tambahkan garam dan gula pasir. Masak dengan api sedang hingga mendidih;
  4. Masukkan larutan tepung secara bertahap sambil terus diaduk. Tambahkan air daun suji. Aduk rata dan terusmasak hingga adonan matang. Angkat;
  5. Tuang adonan ke dalam cetakan kue talam hingga hampir penuh;
  6. Kukus kue talam selama 25 menit atau hingga matang;
  7. Keluarkan kue dari cetakan dan sajikan dengan taburan kelapa parut.  
Selamat Mencoba.  

Salam Jajanan Tradisional INDONESIA,
Dwi Puspa

Minggu, 14 April 2013

Bika Ambon

ABG mau ikut  memeriahkan Jajanan Tradisional Indonesia Week NCC di detik2 terakhir.....
bingung juga mau bikin apa buat setoran ke JTIW, akhirnya pilihan jatuh pada bika ambon makanan khas daerah Medan. untuk resepnya saya ambil dari buku 60 resep snack manis dan gurih NCC yg sdh terjamin anti gagal .... Berhubung tdk punya cetakan oval, bika ambonnya saya buat dalam loyang ukuran. 22x22x7 cm. Berikut resepnya

Bika ambon by. Ibu.Fatmah Bahalwan

Bahan A :
100 gr tepung terigu protein sedang
200 ml air kelapa
11 gr ragi instan

Bahan B:
16 kuning telur
400 gr gula pasir
300 gr tepung sagu tani
600 ml santan kental matang
1 sdt garam
1 sdt vanili bubuk

Cara Membuat:
  1. Aduk bahan A hingga tercampur rata, tutup, diamkan hingga selama 15 menit hingga mengembang, ini adalah adonan biang
  2. kuning telur, gula pasir, garam, vanili di aduk  rata, lalu masukan bahan A dan tepung sagu, aduk rata sambil tuangi santan sedikit demi sedikit hingga santan habis, dan saring
  3. tutup, istirahatkan selama 2 jam
  4. Tuangkan adonan ke loyang yang sudah diolesi minyak (dan jangan diaduk lagi).
  5. Panggang dlm oven panas 180 C dgn pintu sedikit terbuka hingga matang

Tips :
  1. Gunakan air kelapa segar yg baru dikeluarkan dr buah kelapa bulat
  2. Setelah diolesi minyak, panaskan loyang terlebih dulu di dlm oven
  3. Setelah adonan didiamkan selama 2 jam, akan timbul banyak busa, buang dl busa tsb dengan cara disendoki, baru tuang adonan ke loyang, dan jgn diaduk lg supaya sarangya tdk rusak.
  4. Gunakan api bawah saja, agar bagian atas tetap berlubang2 cantik, pintu oven harus dibuka sedikit saat pemanggangan
Salam jajanan tradisional
Ema
http://mcakes99.blogspot.com

Lapet dan Pohul-pohul


Sebelum bobo, saya sempetin bikin laporan dulu ni. Besok Sabtu uda full acara. 
Langsung aja ya...
                  
Lapet adalah kue kebangsaannya orang Batak. Horas! J Sebelumnya kalau disebut Batak, mungkin etnis lain memahami bahwa etnis Batak itu satu saja. Sebenarnya tidak lho. Ada 5 rumpun etnis Batak. Secara garis besar kelima rumpun ini disebut Batak karena semuanya memiliki kesamaan kuat; diantaranya seperti adanya ulos, rumah adat, dan yang paling utama sistem kekerabatannya yang sama termasuk sebagian besar bahasanya juga banyak miripnya. Kelima rumpun itu adalah Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Karo, Mandailing dan Pakpak. Semua berasal dari Sumatera Utara. 

Bagi orang Batak, beras adalah bahan makanan yang sangat penting. Tidak hanya karena beras/nasi merupakan makanan pokok, tapi dalam acara-acara adat, seperti pinangan, pernikahan, kelahiran anak, hingga kematian orangtua, beras berperan penting dalam berlangsungnya acara adat.  Beras ditaruh di dalam piring lalu kemudian dijemput dengan tangan lalu ditabur ke arah atas (ke udara) dan mengenai orang-orang yang ada di sekitarnya. Gerakan menabur beras ini selalu diiringi dengan pepatah atau petuah terlebih dulu lalu ditutup dengan “Horas, Horas, Horas.” Bagi teman yang belum mengerti, “Horas” itu artinya salam, selamat dan sejahtera. Makanya orang Batak setiap bertemu dan sebelum berpisah akan mengucapkan “Horas”. Dalam acara adat “Horas” ini dimaksudkan supaya setiap yang hadir di acara adat tersebut diberi kesehatan, keselamatan dan dilindungi oleh Tuhan.

Dalam prakteknya, beras diaplikasikan sebagai bahan utama membuat penganan penutup (kue) yang disajikan setelah acara makan selesai dan ketika waktunya minum kopi atau teh sambil melanjutkan percakapan yang biasanya selalu panjang dan lama. Apalagi dalam acara pernikahan orang Batak yang tak kelar dari subuh hingga jam 8 malam.

Bicara tentang kue tradisionalnya orang Batak ini, saya ingin memperkenalkan “Lapet dan Pohul-Pohul.” Bahannya sederhana saja, tepung beras, kelapa parut dan gula. Namun dalam pembuatannya bisa divariasi dengan tepung ketan dan gula, baik gula pasir, gula merah atau aren. Yang unik dari kue tradisional Batak ini adalah namanya yang banyak. Di satu daerah Batak seperti di Toba lebih dikenal dengan sebutan ombus-ombus, di daerah Batak Simalungun lebih dikenal dengan lapet. Dari jawaban-jawaban pertanyaan yang saya peroleh, perbedaan nama-nama ini hanya berdasarkan bentuk kue yang dibuat. Ada yang menyebutnya “pohul-pohul” karena kue yang dibentuk dengan cetakan tangan. Caranya adonan digenggam sambil ditekan dengan menutup semua jari tangan, sedemikian hingga tekanan dari jari-jari tangan membentuk kurva-kurva yang menarik pada adonan. Ada lagi yang menyebutnya “dolung-dolung” untuk kue yang dibentuk bulat-bulat lalu tengahnya diisi dengan parutan gula merah. Persisnya seperti klepon yang diisi gula merah. Lalu ada lagi sebutan “ombus-ombus” yang tak lain bentuknya sama dengan “lapet.” Dengan bantuan Inang (Ibunda) tercinta akhirnya saya bisa juga menaklukkan cara membuat lapet ini. Pertama sekali saya membuat lapet ketika dulu di bangku SMP. Ingat sekali saat itu akan ada acara ibadah gereja di rumah. Ibu sayapun membuatnya. Setelah itu tak pernah lagi membuat lapet. Baru di event ini terpikir untuk membuat lapet kembali. Tantangan membuatnya hampir tidak ada kecuali dengan perasaan dan sentuhan tangan. Kepulenan dan kelegitan lapet ini terletak pada kelapa parutnya. Kelapa yang dipakai haruslah yang setengah tua. Kalau kelapanya terlalu tua, lapetnya akan terasa kurang lembut dan serat kelapa terasa kasar. Kelapa yang setengah tua ideal untuk membuat lapet ini. Cukup manis dan legit serta lembut dikunyah.

Berikut bahannya:
1. 500 gr tepung beras (direndam sekitar 3-5 jam) lalu digiling dan diayak halus hingga
    menjadi tepung beras
2. 1/2 butir kelapa setengah tua, parut halus
3. 200 gr gula pasir yang halus (castor sugar) atau sesuaikan dengan rasa manis yang
    diinginkan
4. 1 bungkus Vanili
5. 1/2 sdt garam

Cara Membuat:
Ayak tepung beras hingga benar-benar halus. Lalu kukus kira-kira 10 menit. Dinginkan dan hancurkan dengan cara disuir dengan garpu hingga tidak ada yang menggumpal. Setelah itu dalam wadah yang lebar (biasanya tampah yang sudah dialas daun pisang), campur kelapa parut, gula pasir, vanilli dan garam. Dengan kedua tangan yang sudah dicuci bersih, aduk semua bahan dan pastikan tidak ada gumpalan. Setelah diaduk sekitar 15-20 menit, campuran tepung beras akan terasa berminyak apabila dijemput dengan ketiga jari pertama. Itu artinya adonan sudah siap dibentuk.

Cara Membentuk:
Lapet
Ambil daun pisang yang sudah dipotong-potong selebar 20 cm dari sisi dalam keluar lalu uapkan sebentar dengan uap dari air mendidih agar tidak mudah patah. Satukan sisi kiri kanan daun dengan cara melipatnya ke bagian tengah untuk membentuk kantong persegi di satu sisi. Sisi daun yang dilipat akan membentuk kerucut di ujungnya. Lalu isilah kantong yang terbentuk dari lipatan daun tersebut dengan adonan sebanyak satu-dua sendok makan, tergantung besar lapet yang diinginkan. Selanjutnya lipatkan daun dari sisi yang paling pendek menutup adonan lalu luruskan sisa daun hingga ke ujung-ujung lipatannya, lalu lipat kearah dalam untuk menutup sisa bagian yang terbuka dan sematkan ke dalam sehingga lapet bisa berdiri dengan sisi datar lipatan daun yang disematkan sebagai dasarnya.

Pohul-Pohul
Untuk membentuk pohul-pohul, cukup ambil dua sendok makan adonan lapet dan taruh di telapak tangan lalu tekan seperti meremas hingga adonan menggumpal dan buku-buku jari Anda tercetak dalam adonan yang membentuk lengkungan genggaman tangan tersebut.

Kukus lapet dan pohul-pohul selama 45 - 1 jam hingga matang.
Saya lebih suka lapet apalagi dimakan hangat-hangat karena daun pisang pembungkus memberi aroma yang lebih khas hingga rasanya lebih enak dibanding pohul-pohul walau dibuat dari bahan dan adonan yang sama. Sekian laporan saya.

Diatei Tupa, Mauliate, Mejuah-Juah Tri Host yang baik hati. Selamat Malam baik juga:-) 


Horas semuanya,


Trinitati Saragih 

Jumat, 12 April 2013

Pohul Pohul

Turn off for: IndonesianDear trio Host
Dengan penuh perjuangan saya akhirnya kirimkan juga laporan saya, aslinya sih pohul pohul ini saya udah buat dari pertengahan Maret tp saya ga punya nyali kirim laporannya, secara ini laporan pertama saya dan ngeliat laporan2 lain yg bagus-bagus buat keder..
Tapi, akhirnya saya niatkan juga deh di penghujung Waktu
Kenapa saya pilih pohul pohul, karena saya asli Batak, dan pohul pohul ini ada di kesempatan di acara adat, kalau naikkin bumbungan rumah dan masukin rumah juga harus ada tapi di versi mentahnya alias Itak Itak. Saya buatnya tanpa Gula merah karena suami ga terlalu suka manis gula merah ntah kenapa, berikut resepnya yg saya dapat dari kakak,
Pohul Pohul
Bahan :
1/2 butir kelapa parut
150gr tepung beras
50gr gula merah sisir halus( saya ga pake, saya ganti dng 50gr gula Pasir )
Garam 1/2 sdt
Daun pandan buat alas kukusan
Cara membuat :
Campur semua bahan menjadi satu, ambil sedikit adonan, kepalkan, Kukus di atas kukusan yg sudah di alasi daun pandan sampai matang
Semoga laporan ini ga malu-maluin dan bisa di terima dengan baik.
Salam jajanan Indonesia
Rgds
Eva

Kamis, 11 April 2013

Cakar Ayam


Dear host,

Alhamdulillah event JTIW nya diperpanjang 3 hari lg jd masih bisa deh setoran lagi.

Setoran kali ini masih diseputar makanan khas dari Medan, kotaku tercinta, ya iya lah krn lahir dan besar di Medan jd tau nya ya makanan khas dari sana.

Makanan ini disebut CAKAR AYAM, mungkin karena bentuknya yg acak2an seperti cakar ayam makanya diberi nama begitu ya, hehe. Dan setau saya CAKAR AYAM ini makanan khas warga melayu.

Makanan ini makanan favorite saya dulu semasa kanak2 karena rasanya yg renyah, kriuk2 dan manis. Terbuat dari ubi jalar atau ubi rambat kl dimedan, yang diserut kasar lalu digoreng. Setelah digoreng diberi lumuran gula merah...so simple tp enak deh.

Agak susah mencari referensi resepnya di internet, saya menemukan resepnya dari website kuliner sumut di www.kulinersumut.com

Resepnya sbb:

CAKAR AYAM

Bahan :

1/2 kg keledek/ubi jalar/ubi Rambat
1 sendok kecil air kapur
300 gram gula merah
2 sendok besar air
Minyak untuk menggoreng

Cara Membuat :

Bersihkan keledek dan sagat/serut halus memanjang. Rendam sebentar kira-kira 1 jam dalam air kapur.
Tiriskan hingga kering kemudian digoreng.
Angkat keledek yang telah digoreng dan tiriskan.
Ambil kuali bersih, masukkan gula merah dan air.
Jika gula telah larut, masukkan keledek yang telah digoreng tadi.
Segera angkat dan masukkan kedalam cetakan bulat . Tekan kuat-kuat agar keledek padat didalam cetakan.
dinginkan terlebih dahulu baru kemudian dimakan.


Salam JTIW,

Wenny H

Kue Angka 8 (Karakeling)

 
Dear Ibu ibu Host,

Jujur aja agak sedikit ga pede mau ikutan, maklum abg 1 bulan yg benar2 baru belajar di dunia perkuehan...:)
Kue ini ada juga yang menyebutnya karakeling, yang saya tahu asalnya dari Sipirok, Tapanuli Selatan, yaitu daerah asal kedua ortu saya. Dahulu ketika masih kecil saya dan sepupu -sepupu biasa mencicipi kue ini di rumah almh.oppung saya (nenek)terutama ketika lebaran.Sayang sekali sekarang jarang bgt ketemu kue ini lagi. Paling kalau ada teman atau saudara yang lagi pulkam.
Ketemu resep ini udah sekitar 3 bln yang lalu.
Tapi baru eksekusinya tadi malam, mumpung ada event JTIW ini.
Berikut resepnya:

Kue angka 8/Karakeling

Bahan : 
300 gr Tepung ketan
4 butir telur ayam
1/4 sdt garam
Minyak utk menggoreng

Cara membuat :
Kocok telur dengan mixer hingga mengental.Matikan mixer, masukkan tepung sedikit demi sedikit.Hentikan penambahan tepung bila dirasa adonan sudah cukup kalis dan dapat dibentuk.
Pilin adaonan dan bentuk menjadi angka delapan.
Masukkan dalam minyak dingin, goreng hingga matang.
Setelah dingin masukkan kedalam adonan besta

Besta :

200 gr gula pasir
100 ml air
1 sdm minyak

Cara membuat : 
Panaskan minyak, masukkan gula pasir dan air, aduk hingga kental dan berambut.

Kue ini seharusnya bersalut besta,tapi disini saya taburi gula halus saja sudah ok kok
Silahkan dicoba.....

Regards
-Dina-

Rabu, 10 April 2013

Bika Ambon khas Medan



Dear : Trio Host NCCJTIW & Segenap Kawan2 NCC

Ini adalah laporan saya yang pertama di ajang NCCJTIIW, baru di detik -detik terakhir sempat untuk 'mengejar' setoran guna meramaikan ajang 'Week2an' yang digelar di milist tercinta ini.
Kali ini pilihan jatuh kepada Bika Ambon makanan khas daerah Medan. Setelah cari-cari di internet mengenai asal usul Bika Ambon ini, saya sendiri tidak dapat menemukan bagaimana sejarah Bika Ambon bisa menjadi makanan tradisional khas Medan, padahal namanya memakai kata 'Ambon' yang mengacu kepada daerah Ambon itu sendiri, tetapi kenapa bisa menjadi makanan khas daerah Medan.
Ada sebagian sumber yang mengatakan bahwa Bika Ambon sendiri merupakan kuliner peninggalan dari bangsa Portugis di Indonesia. Ada juga yang mengatakan bahwa Bika Ambon ini dibawa oleh pedagang-pedagang Ambon yang singgah di kota Medan dan memperkenalkannya kepada penduduk setempat.
Bagaimanapun sejarah dari Bika Ambon ini, yang jelas Bika Ambon sudah melekat menjadi penganan ciri khas kota Medan.

Tambahan Redaksi: (diambil dari Wikipedia)
Menurut penjelasan M Muhar Omtatok, seorang seorang budayawan dan sejarahwan, Kue Bika Ambon terilhami dari Kue khas Melayu yaitu Bika atau Bingka. Selanjutnya dimodifikasi dengan bahan pengembang berupa Nira/Tuak Enau hingga berongga & berbeda dari kue Bika atau Bingka khas Melayu itu. Selanjutnya M Muhar Omtatok menyebutkan bahwa kue ini disebut Bika Ambon karena pertama sekali dijual & popular di simpang Jl Ambon – Sei Kera Medan.
Bika ambon dikenal sebagai oleh-oleh khas Kota Medan, Sumatera Utara. Di Medan, Jalan Mojopahit di daerah Medan Petisah terdapat sedikitnya 30 toko yang menjual kue ini.[1]. Setiap toko di lokasi ini bisa menjual lebih dari 1.000 bungkus bika ambon per hari apabila menjelang hari raya.[1] Diperkirakan, sebutan bika ambon muncul dari kebiasaan masyarakat yang dahulu baru mengenal bika yang diproduksi di jalan ambon, Medan. Penyebutan bika ambon akhirnya menjadi tradisi seiring dengan berkembangnya industri makanan ini.[1]
Untuk resepnya saya menggunakan resep Bika Ambon Oval NCC yang ditulis oleh Ibu Fatmah Bahalwan yang sudah pasti enak rasanya, dan saya membuat 3/4 resep untuk saya coba-coba dan dicetak di loyang ukuran persegi 20 cm.
Berikut resepnya (saya tulis disini sudah menjadi 3/4 resep dan sudah saya modifikasi sedikit dengan menambahkan daun jeruk, daun pandan dan serai)

BIKA AMBON MEDAN

Bahan A : 
75 gr Terigu
150gr Air Kelapa Segar
8 gr Ragi Instant 

Bahan B :
12 btr Kuning Telur
300 gr Gula Pasir
225 gr Sagu 'Tani"
450 gr Santan Kental dimasak dengan daun jeruk, daun pandan, dan serai, kemudian  saring dan dinginkan.
Garam secukupnya
Vanili secukupnya

Cara Membuat:
  1. Aduk bahan A sampai rata. tunda +/- 20 menit.
  2. Aduk kuning telur, gula, garam, dan vanili sampai rata. Masukkan sagu dan bahan A aduk rata, sambil di tuang santan sedikit demi sedikit. 
  3. Saring adonan dan tunda minimal 2 jam sampai berbuih.
  4. Poles loyang dengan minyak tipis-tipis dan panaskan terlebih dahulu di dalam oven. (Sebelum adonan dituang ke dalam loyang, buang buih2 yang ada di permukaan adonan). kemudian tuang adonan ke dalam loyang dan panggang sampai terbentuk seratnya (oven jangan ditutup, biarkan terbuka).
  5. Setelah matang, panggang sebentar menggunakan api atas.
  6. Setelah matang dan dingin, keluarkan dari cetakan, potong-potong dan sajikan.
Salam,
Gunz

Pohul pohul (Itak pohulpohul)


Haiiiii cemuwah,
 
Ini adalah laporan ke 4 yaaaaaah.. Dibuat persis untuk acara baptisan ponakanku dari suami. Karena agnes berasal dari suku Jawa sedangkan suami Batak, jadi kenapa gak coba belajar buat makanan tradisional mereka? Mumpung ada acara JTIW, sebagai host ya malu laaaah kalo nggak ikutan berkontribusi hihi..
Kue tradisional suku Batak (Sumatera Utara) ini bernama Pohul – pohul atau Itak Pohulpohul. Menurut Wikipedia, Pohulpohul sering menjadi buah tangan bagi pihak keluarga yang datang berkunjung dalam rangka pembicaraan adat, misalnya: membicarakan rencana perkawinan putera dan puteri kedua belah pihak. Tentu saja pohulpohul ini merupakan buah tangan pendamping karena buah tangan utama yaitu masakan Ikan Mas.
Pohulpohul dibentuk mengikuti siluet kepalan tangan, yakni bekas jari-jari yang membentuk pohulpohul tersebut sehingga bahan utama pembuatnya yakni tepung beras menjadi padat dan saling mengisi. Hal ini merupakan perlambang dari bagaimana pembicaraan adat di antara kedua belah pihak (paranak dan parboru) berlangsung. Dalam proses yang diwarnai oleh dialog dan negosiasi tersebut, adakalanya terjadi saling lempar perkataan yang menusuk atau menyinggung perasaan. Namun seperti pada pohulpohul di mana tepung saling mengisi dan saling memadatkan diri, kiranya diharapkan demikianlah perkataan-perkataan yang bersiliweran dalam pembicaraan adat, saling mengisi dan saling memadatkan dengan tiada lain tujuannya adalah untuk menyempurnakan hajatan adat yg sedang dipersiapkan.
Dalam kue tradisional ini, terkandung gizi yang cukup kaya yaitu: karbohidrat, protein, bermacam – macam vitamin B, zat besi, kalsium, lemak, omega 3 dan serat serta tidak mengandung kolesterol ataupun telur. Yuk kita intip cara pembuatannya..
 
POHUL – POHUL (ITAK POHULPOHUL)
 
Bahan:
  • 250 gr kelapa setengah tua, kupas, parut kasar
  • 125 gr tepung beras
  • ½ sdt garam
  • 50 gr gula merah sisir kasar
  • 20 lbr daun pandan
Cara Membuat:
  1. Aduk rata kelapa, tepung beras dan garam hingga tercampur rata.
  2. Taburkan gula merah, sisihkan.
  3. Ambil dua sendok makan adonan, lalu kepal-kepal dengan tangan.
  4. Alasi kukusan dengan daun pandan.
  5. Kukus sampai matang.
Untuk 10 buah.
Jadi deeeeh.. Pohulpohul ini sedap sekali jika disajikan panas – panas apalagi makan bersama keluarga.
Nyam..nyam...nyam...
Tabo nai puang!!!!

Salam,
Agnes Marie

Roti Ketawa (Roti Mekkel)


Dear Hosts NCC JTIW yang manis,

Langsung aja ya:-)

Jangan bilang Anda berasal dari Medan kalau tidak kenal “Roti Ketawa.” Serius lho! Roti Ketawa sudah jadi jajanan resmi saya sejak di SD kenal uang Rp 25, atau Rp 50 hingga Rp 100. Waktu itu saya ingat harga sebuah roti ketawa hanya Rp 25., kemudian Rp 50., kemudian Rp 100., Kalau sekarang mungkin sudah Rp 500 atau Rp 1000., per buah. Saya selalu suka roti ketawa. Bahkan setelah duduk di bangku kuliahpun saya masih suka roti ketawa.  Pindah dari Medan, saya kuliah di Depok. Dulu, pertama sekali saya melihat abang-abang menjual ‘semacam’ roti ketawa. Bedanya bentuknya lebih kecil-kecil dengan taburan wijen. Di kacanya tertulis “Onde Ketawa”. Penasaran, saya beli. Namun sayang, yang saya pikir roti ketawa itu sama sekali tidak ada ketawanya alias bulat sempurna. Belum lagi rasanya, sama sekali tidak sama dengan ‘roti ketawa’ yang saya kenal di Medan. Juga teksturnya terlalu lembut. Terus terang saya kecewa.  Sejak itu saya tak tertarik membeli “Onde Ketawa” yang didorong abang-abang. 

Oya bicara tentang namanya, menurut saya karena ada bagian kuenya yang membuka, maka disebutlah “Roti Ketawa.” Adonan yang dibentuk bulat saat digoreng akan membuka dan ngangap. Kalau sekarang saya sudah mengerti kenapa adonan membuka. Tekanan panas dari minyak membuat pengembang kue bereaksi dengan gula yang ada di dalam adonan dan reaksi itu yang mendorong udara keluar dan membuka adonan. Tapi kenapa disebut “Roti Ketawa” bukan “Kue Ketawa” saya sendiri ga pernah tahu. Roti Ketawa ini sama sekali tidak menggunakan ragi yang menjadi ciri khas bahan roti. Yang jelas kalau datang ke Medan, Tanah Melayu Deli lalu kota-kota lain di sekitarnya seperti Kabupaten Simalungun,kota Pematang Siantar tempat kelahiran saya, terus lanjut menuju Pematang Raya dan berlanjut  terus ke Tanah Karo, Kabanjahe dan Berastagi atau dari Pematang Siantar terus ke daerah Tapanuli yang berada di pinggiran Danau Toba dan sekitarnya, bisa dipastikan semua kedai kopi, semua warung hingga toko-toko makanan di pasar tradisional mengenal “Roti Ketawa.” Begitu luasnya kepopuleran kue satu ini bukan? Roti ketawa dari Medan bersama ikan teri  dan selai srikaya sudah pasti menjadi oleh-oleh yang selalu saya minta. Tiga empat biji roti ketawa di pagi hari dengan secangkir teh manis panas, cukup buat bekal berangkat kuliah. Perut aman sampai jam 1 siang.

Kenangan sejak kecil dengan ‘roti ketawa’ ternyata membekas nyata hingga sampai sekarang berkeluarga dan punya anak. Jujur saja eksperimen pertama saya adalah bertemu resep NCC “Onde Ketawa”. Ikutin resep tapi setelah dimakan, rasanya belum seperti yang diingat oleh lidah. Jadilah resep NCC saya ubah sedikit disana-sini. (Semoga Ibu Fatmah tidak keberatan ya, resepnya saya ganti, tetap jadi patokan kok sebenernya) Setelah beberapa kali eksperimen akhirnya saya puas dengan hasilnya. Makin lengket dengan NCC. Sekarang sudah bisa menikmati roti ketawa kapan saja mau tanpa harus menunggu oleh-oleh dari Medan. Setiap saudara yang datang saya suruh cobain dan mereka bilang enak roti ketawanya. Sayapun tertawa haha…haha…

Roti Ketawa ala Jajanan anak Medan

Bahan:
250 gr tepung protein tinggi
150 gr gula pasir
50 gr Margarine
3 butir telur ukuran sedang
1 sdt baking powder double active
1 sdt Vanilli
Air dingin matang 5 sdm
1 liter minyak goreng
air dingin dalam mangkok untuk mencelup
100 gr wijen putih

Cara Membuat:
  1. Campur vanilli, soda kue, garam dan tepung. Aduk rata dengan whisk.
  2. Mikser margarine dengan gula hingga lembut lalu masukkan telur satu-persatu sambil terus dikocok hingga mengembang. Masukkan air 3 sdm. Mikser llagi hingga semua tercampur rata. Matikan mikser.
  3. Masukkan campuran tepung dan air hingga adonan menyatu, uleni perlahan-lahan hingga bisa dibentuk bulat-bulat. Uleni sekitar 5 menit. Ini dimaksudkan supaya ikatan tepung membentuk gluten sehingga akan didapat tekstur roti ketawa yang lebih bervolume (baca keras) Setelah itu bentuk bulat-bulat sebesar bola pingpong.
  4. Sebelumnya panaskan wajan dan minyak goreng. Setelah minyak goreng matang, matikan api. tunggu sekitar 3 menit.
  5. Celupkan adonan bulat bola pingpong ke dalam air, lalu taburi dengan wijen secara merata dan langsung digoreng.
  6. Nyalakan kompor kembali. Goreng adonan dengan api sedang. Masukkan bola-bola hanya hingga separuh permukaan wajan saja karena adonan akan membuka dan mengembang. Goreng hingga kecoklatan lalu angkat dan tiriskan. Siap dihidangkan.

Catatan: Karena saya orang batak, saya lebih suka menyebutnya “Roti Mekkel” sebab ketawa dalam bahasa Batak adalah Mekkel. Sekarang anak-anak sayapun menyebutnya “Roti Mekkel” Buat yang susah ketawa, ayo bikin kue satu ini. Dijamin pasti tidak akan ketawa haha haha… loh? Hehehe iya, yang ada Anda hanya akan minta nambah lagi roti ketawanya hahaha. Selamat Mencoba. 

NCC JTIW Hosts Thanks bangat semuanya ya.  Ini setoran pertama, favorit saya. Akhirnya berhasil juga ikutan. Minggu lalu saya mulai eksekusi. Terus terang, bb nambah ni tak hanya karena roti ketawa tapi karena kue tradisional lain yang enak dan menggoda hehe.

Salam Hangat,

Tati

Selasa, 09 April 2013

Ombus - ombus


Dear Trio Host,


Sudah lama pengen bikin kue khas batak yang satu ini,  krn sudah gak inget lagi kapan ya terakhir kali makan nya sangking sudah lamanya.

Kue ini aslinya dari daerah Tapanuli utara, tepat nya dari Siborong-borong. Kue ini dinamakan OMBUS-OMBUS.

Ombus-ombus ini biasanya dan lebih enak dinikmati selagi masih panas/hangat, sehingga sebelum memakannya harus ditiup dulu. Dalam bahasa batak toba ombus artinya tiup/embus. Dari situlah sepertinya nama makanan ini berasal.

Bahan kue ini cukup sederhana, hanya terdiri dari campuran tepung beras, gula merah dan kelapa. Rasanya hampir2 mirip dengan kue putu bambu.
Tapi ternyata setelah digoogling ada juga resep kue ombus-ombus berbahan tepung ketan, setahu saya ombus-ombus itu berbahan dasar tepung beras.

Resep didapat dr hasil googling ke www.provinsisumut.blogspot.com, sbb :

OMBUS-OMBUS

Bahan:
200 gr tepung beras
200 gr kelapa, parut (pilih yg tdk terlalu muda ataupun terlalu tua)
1/2 sdt garam
100 gr gula merah, sisir halus
Daun pandan, iris 2cm
Daun pisang

Cara membuat:
Campur tepung beras, kelapa dan garam, aduk rata hingga adonan berbutir
Daun pisang di bentuk kerucut kecil, letakkan daun pandan iris, taruh 1 sdm adonan, isi sedikit gula merah, tutup kembali dgn adonan, bungkus, lakukan hingga adonan habis.
Masukkan dlm dandang yg telah dipanaskan, kukus sampai matang kurleb 15-20 menit.
Ombus-ombus siap dihidangkan.

Terimakasih,
Wenny H

Kamis, 04 April 2013

Pohul - pohul


Hai mbak2 Trio TAH..

Setoran (baru) ketiga nih.. Setelah Lemper dan Empek-empek,kali ini saya setor makanan tradisional Batak yang berasal dari Tapanuli. Nama makanannya Pohul-Pohul yang artinya kepalan tangan.

Berikut kutipan tentang filosofi Pohul-pohul yang saya ambil dari Wikipedia.
"Pohul-pohul sering menjadi buah tangan bagi pihak keluarga yang datang berkunjung dalam rangka pembicaraan adat, misalnya, membicarakan rencana perkawinan putra dan putri kedua belah pihak.

Tentu saja pohul-pohul ini hanya oleh-oleh pendamping belaka dari oleh-oleh utama, yakni berupa makanan 'berat' yakni ikan mas.

Pohul-pohul yang bentuknya mengikuti siluet kepalan tangan, yakni bekas jari-jari yang membentuk pohul-pohul tersebut sehingga tepung beras sebagai bahan utamanya menjadi padat dan saling mengisi, merupakan perlambang dari bagaimana pembicaraan adat di antara kedua belah pihak (paranak dan parboru) berlangsung. Dalam proses yang diwarnai oleh dialog dan negosiasi tersebut, ada kalanya terjadi saling lempar perkataan yang menusuk atau menyinggung perasaan. Namun seperti pada pohul-pohul di mana tepung saling mengisi dan saling memadatkan diri, kiranya diharapkan demikianlah perkataan-perkataan yang bersiliweran dalam pembicaraan adat, saling mengisi dan saling memadatkan dengan tiada lain tujuannya adalah untuk menyempurnakan hajatan adat yg sedang dipersiapkan."

Resep Pohul-pohul ini pun saya peroleh langsung dari Ompung saya(bela-belain nelpon.hahaha..). Setelah dijelaskan secara detail cara-caranya,maka saya pun segera melaksanakan praktek membuat Pohul-pohul..

Pohul-Pohul
(Sumber: Ompung Imelda)

Bahan:
250 gram beras,ditumbuk(saya pk blender bahan kering)
500 gram kelapa setengah tua,kerik,parut memanjang.Kukus sebentar.
100 gram gula merah,sisir.
Garam secukupnya
Daun pandan

Cara membuat:
  1. Panaskan dandang. Alasi dengan daun pandan.
  2. Sangrai beras yang sudah ditumbuk,lalu ayak.
  3. Campur kelapa parut, beras tumbuk dan garam. Aduk rata.
  4. Masukkan irisan gula merah.
  5. Ambil kira-kira 3 sendok makan adonan,lalu kepalkan dengan tangan sehingga terbentuk siluet genggaman tangan.
  6. Kukus sampai matang.

Menikmati Pohul-Pohul dengan secangkir teh hangat di sore hari,mertua lewat pun tak digubris! (Hahaha..becandaaaa..)

Supaya keliatan Bataknya,saya pun bela-belain bongkar lemari untuk nyari kain Ulos sebagai "alas" Pohul-pohul buatan saya. Hahaha..

Sekian laporan saya.

Salam Jajan Tradisional,

Lidya~Jayapura
HORAS !!

Jumat, 29 Maret 2013

Apam Ubi


Dear Trio Host,

Baru kali ini saya ikutan NCC week.
Resep ini adalah resep mama tercinta yang berasal dari Medan Sumatera Utara
Biasanya mama menyebutnya apam ubi.
Rasanya enak,lembut, wangi, dan yang pasti sehat karena terbuat dari ubi dan tanpa tambahan bahan kimia.
Semoga berkenan^-^.Selamat mencobanya.^-^

Bahan
Ubi Jalar
Gula Jawa 2,5 ons
Gula Pasir 1 ons
Santan kental250 cc
Telur 2 bh
Gist separuh
Air putih 250 cc
Pandan
Vanili

Cara membuat;
  1. Ubi Jalar dikukus,hasil kukusan harus 3 ons.
  2. Setelah  matang, ubi dihaluskan panas-panas
  3. Gula Jawa dihaluskan
  4. Gula Jawa,Gula pasir, Pandan, air, vanili direbus,disaring lalu dinginkan
  5. Masukkan ubi yang sudah dihaluskan ke dalam air gula lalu saring hingga halus
  6. Masukkan tepung trigu, gist, telur dan santan,aduk rata
  7. Biarkan hingga -/+ 4 jam hingga mengembanng 2x dari semula
  8. Siapkan cetakan
  9. Panaskan kukusan dan tutup dengan serbet tutup kukusannya
  10. Siap dikukus selama -/+ 15 menit
  11. Siap disajikan

Salam,
DeWi